Jan
9
Secret Garden
January 9, 2008 | |
Sesungguhnya hanya sebuah taman biasa, namun
ada banyak hal di dalamnya. Bunga-bunga di sana-sini. Serangga jelita beterbangan
kian kemari. Ada sebuah danau mungil dengan bunga-bungaan di tepinya. Rimbunan
bunga melindungi binatang-binatang yang hanya bisa kudengar suaranya.
Permukaannya licin hingga kau bisa berkaca
padanya. Tunggulah purnama malam ini, niscaya kau melihat bulan seakan menjadi
dua. Duduk di tepiannya, pada sebuah batu besar, di situlah aku sekarang.
Merekam tiap inchi suasananya, sambil menunggu kehadirannya. Dia.
Ah ya, tanpanya kukira aku tidak seperti yang lainnya.
Biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Tersadar manakala aku terjatuh di tempat
ini, senyumnya lah yang kulihat kali pertama. Senyum istimewa yang akan kuingat
selamanya. Rasa bahagia secara kilat segera menerpa. Semangatnya, cerianya, menulariku
seketika itu juga.
Ah ya, dia yang selalu mengingatkanku bahwa
aku luar biasa. Dia selalu berkata bahwa aku bisa berbeda. Baik ketika aku sedang
istimewa, juga ketika aku merasa sedang sengsara. Begitupun ketika aku merasa
berbeda dengan dirinya, dia bisa membuatku merasa berharga.
“Kau malaikat!”, serunya. Namun aku terdiam.
Tak percaya. Apa istimewanya? Benakku dipenuhi oleh tanya. “Kau Pangeran. Kau
lebih istimewa”, balasku. “Kau bisa terbang kan?”, tanyanya. Aku tertawa sebagai
jawabannya.
Namun dia tidak bercanda. Berkat bantuannya,
bisa kukembangkan kembali sayapku. Kucoba terbang di atas taman, dia mengamati
sambil tertawa-tawa. Bersamanya aku bahagia.
Di taman itu kami selalu bersua. Setiap hari kudengar
sapanya. Sesekali dia datang berkunjung, sesekali dengan sebatang Silver Queen.
Mungkin lama-lama, tak bisa terbang aku dibuatnya. “Coklat bisa membuat gendut”,
sahutku. Dia tertawa.
Kutemukan rumah baruku di sana. Dan kuberikan
hatiku untuk rumah hatinya.
Comments
1 Comment so far
Terbang bersamaku sayang.